Author :
dr. Maurenda Kwadarel Zevalunsa,
dr. Ichwanul Aminin Sp.Rad
ABSTRACT
Tuberkulosis (TB) hingga saat ini masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia. Berdasarkan Global Tuberculosis Report 2024, pada tahun 2023 diperkirakan terdapat sekitar 1.090.000 kasus TB di Indonesia dengan 125.000 kematian setiap tahunnya, menempatkan Indonesia sebagai negara dengan beban kasus tertinggi kedua di dunia.
Upaya penanggulangan TB bertujuan melindungi kesehatan masyarakat dari penularan TB agar tidak terjadi kesakitan, kecacatan, dan kematian. Sesuai dengan amanah Peraturan Presiden No. 67 tahun 2021, upaya penanggulangan TB harus dipercepat agar Indonesia dapat mencapai eliminasi TB pada tahun 2030, serta mengakhiri epidemi TB di tahun 2050.
Untuk mencapai eliminasi TB tahun 2030, Kabupaten Ngawi menggunakan portable x ray untuk mendiagnosa TB karena pemeriksaan bacteriologis masih belum menghasilkan penemuan kasus sesuai yang diharapkan.
Pada semester satu tahun 2026, dengan melakukan foto toraks terhadap 444 terduga TB ditemukan positif TB sebanyak 21 orang (4,7%), terbanyak didapat dari pemeriksaan foto toraks karena adanya gejala pada penderita.
PENDAHULUAN
Indonesia telah lama menghadapi beban tinggi TB, yang masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat paling serius di negara ini. Pada 2025, diperkirakan lebih dari 1 juta orang didiagnosis terjangkit TB, dengan jumlah kematian tiap tahun mencapai 134.000. Deteksi dini kasus dan memastikan pasien menyelesaikan pengobatan masih menjadi kendala berkepanjangan dalam pengendalian penyebaran penyakit ini.
Pada tahun 2026, Indonesia mengambil peran kepemimpinan dengan menetapkan tema nasional "SATU TB: Sinergi Aksi Tuntaskan TB". Tema ini menekankan pentingnya kolaborasi, menegaskan bahwa pencapaian Eliminasi TB 2030 bukanlah tugas sektor kesehatan semata. Penanggulangan TB di Indonesia harus dipimpin oleh negara dan digerakkan secara masif oleh sinergi lintas program, lintas sektor, organisasi profesi, hingga elemen masyarakat terkecil di tingkat desa dan kelurahan.
Sebagai langkah awal untuk memutus mata rantai penularan, sinergi pertama difokuskan pada percepatan penemuan kasus secara aktif dan komprehensif. Upaya jemput bola ini dilakukan melalui integrasi skrining TB ke dalam program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di instansi pemerintah, tempat kerja, sekolah, pesantren, lapas/rutan, hingga komunitas. Pelacakan atau investigasi kontak juga dilakukan lebih agresif dengan melibatkan kader dan Desa/Kelurahan Siaga TB. Setiap terduga TB akan diperiksa sesuai standar, di mana hasil bakteriologis negatif dan kontak serumah wajib ditindaklanjuti dengan pemeriksaan Rontgen (X-ray).
Di Kabupaten Ngawi Jawa Timut, TB masih menjadi masalah Kesehatan yang memerlukan penanganan serius. Selama tahun 2025, diperkirakan ada kasus sebanyak 2.111, namun yang ditemukan baru 1.474 kasus ( 69% ). Sehingga upaya terpenting Adalah penemuan kasus sebanyak mungkin agar dapat memutus mata rantai penularan selanjutnya.
Salah satu upaya untuk menemukan lebih banyak penderita TB ada active case finding menggunakan portable x ray. Dalam rangka itu, Pemerintah Kabupaten Ngawi melakukan kegiatan diatas dengan kolaborasi antara tim penjaringan sasaran dilakukan oleh Puskesmas dan tim portable x ray sebagai pelaksana x ray yang mobile ke desa-desa yang aksesnya jauh ke rumah sakit.
Pesawat portable x ray merupakan modalitas dalam pemanfaatan radiasi pengion di bidang kedokteran untuk keperluan diagnostik. portable x ray merupakan teknologi yang memberikan pencitraan realtime kepada petugas. Keunggulan pesawat portable x ray yang berukuran kecil dan mudah dibawa untuk memberikan pencitraan di lokasi, sehingga memungkinkan penilaian secepat mungkin.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan dengan cara pengambilan data primer terhadap semua pasien yang dilakukan pemeriksaan diagnostic TB menggunakan portable x ray di Kabupaten Ngawi pada periode semester 1 tahun 2026. Penelitian ini berharap diketahui gambaran kasus dilihat pada wilayah, jenis kelamin, usia dan indikasi dilakukan x ray.
Adapun awalan dan akhiran yang pengikut penelitian ini terdiri dari 3 pentahapan.
- TAHAP PENCARIAN SASARAN
Tahap ini dilaksanakan oleh tim puskesma, adapun indikasi skrining Mobile/Portable X-Ray ditujukan untuk :
-
- Masyarakat yang memiliki gejala TB (batuk terus-menerus, demam, keringat malam),
- Kontak erat dengan pasien TB,
- Kelompok rentan atau berisiko tinggi lainnya.
- TAHAP PELAKSANAAN
Pada tahap ini diawali dengan komunikasi, informasi dan edukasi dan selanjutnya dilaksanakan foto toraks di tempat yang telah disiapkan - TAHAP TINDAK LANJUT
Tahap ini akan dilakukan pembacaan hasil foto oleh dokter spesialis radiologi dan hasilnya langsung disampaikan kepada puskesmas agar yang hasil positif TB dapat segera dilakukan pengobatan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Selama semester 1 tahun 2026 di Kabupaten Ngawi telah dilaksanakan pemeriksaan foto toraks dengan portable x ray sebanyak 6 pos yakni di wilayah kerja Puskesmas Gemarang, Jogorogo, Padas, Sine, Mantingan dan Karanganyar. Pada 6 pos tersebut telah dilakukan foto toraks sebanyak 444 Pasien dengan terinci sebagai berikut
- MENURUT WILAYAH KERJA
Tabel 1 : Distribusi menurut wilayah kerja Puskesmas
|
NO |
PUSKESMAS |
DIPERIKSA |
% |
TORAKS TB |
% |
% TB/PUSKESMAS |
|
1 |
Gemarang |
74 |
16,7 |
3 |
14,3 |
4,1 |
|
2 |
Jogorogo |
76 |
17,1 |
3 |
14,3 |
3,9 |
|
3 |
Mantingan |
69 |
15,5 |
1 |
4,8 |
1,4 |
|
4 |
Padas |
75 |
16,9 |
0 |
0,0 |
0,0 |
|
5 |
Sine |
75 |
16,9 |
3 |
14,3 |
4,0 |
|
6 |
Karanganyar |
75 |
16,9 |
11 |
52,4 |
14,7 |
|
JUMLAH |
444 |
100 |
21 |
100,0 |
4,7 |
|
Pada semester 1 tahun 2026 telah dilakukan pemeriksaan diagnostic terduga TB dengan foto toraks menggunakan portable x ray sebanyak 444 pasien dengan jumlah positif TB sebanyak 21 orang (4,7%). Jumlah terduga TB yang dilakukan foto toraks tersebar merata di 6 puskesmas, namun yang positif TB terbanyak ada di Puskesmas Karanganyar yakni sebanyak 11 pasien (52,4%). Secara geografis wilayah Puskesmas Karanganyar terletak jauh dari ibukota kabupaten. Sedangkan pada wilayah Puskesmas Padas tidak ada terduga yang hasil foto toraks terdiagnosa TB.
- MENURUT UMUR
Tabel 2 : Distribusi menurut umur
|
NO |
KELOMPOK UMUR |
DIPERIKSA |
% |
TORAKS TB |
% |
% TB/KEL.UMUR |
|
1 |
Balita ( <5 th ) |
88 |
19,8 |
2 |
9,5 |
2,3 |
|
2 |
Anak-anak ( 5-9 th ) |
28 |
6,3 |
2 |
9,5 |
7,1 |
|
3 |
Remaja ( 10-18 th) |
28 |
6,3 |
3 |
14,3 |
10,7 |
|
4 |
Dewasa ( 19-59 th ) |
193 |
43,5 |
11 |
52,4 |
5,7 |
|
5 |
Lansia ( >60 th ) |
107 |
24,1 |
3 |
14,3 |
2,8 |
|
JUMLAH |
444 |
100 |
21 |
100 |
4,7 |
|
Pada pelaksanaan foto toraks dengan portable x ray terbanyak dilakukan pada kelompok umur dewasa yakni sebesar 193 (43,5%). Selaras juga jumlah yang positif sebanyak 11 orang (52,4%). Namun prosentase tertinggi terhadap jumlah yang diperiksa ada pada kelompok umur remaja yakni dari 28 yang diperiksa terdapat 3 pasien positif TB (10,7%).
- MENURUT JENIS KELAMIN
Tabel 3 : Distribusi menurut jenis kelamin
|
NO |
PUSKESMAS |
DIPERIKSA |
% |
TORAKS TB |
% |
% TB/JEN KELAMIN |
|
1 |
Laki-laki |
224 |
50,5 |
13 |
61,9 |
5,8 |
|
2 |
Wanita |
220 |
49,5 |
8 |
38,1 |
3,6 |
|
JUMLAH |
444 |
100 |
21 |
100 |
4,7 |
|
Pasien laki-laki mendominasi dengan hasil positif TB sebanyak 13 pasien (61,9%) walaupun jumlah yang diperiksa hampir seimbang, sehingga prosentase positif terhadap jenis kelamin yang diperiksa, pada laki-laki lebih besar dibanding wanita (5,8% dibanding 3,6%)
- MENURUT INDIKASI
Tabel 4 : Distribusi menurut indikasi
|
NO |
PUSKESMAS |
DIPERIKSA |
% |
TORAKS TB |
% |
PROPORSI |
|
1 |
Gejala |
165 |
37,2 |
17 |
81,0 |
9,3 |
|
2 |
Kontak erat |
182 |
41,0 |
4 |
19,0 |
2,4 |
|
3 |
Penderita HIV |
15 |
3,4 |
0 |
0,0 |
0,0 |
|
4 |
Balita 2T |
82 |
18,5 |
0 |
0,0 |
0,0 |
|
JUMLAH |
444 |
100 |
21 |
100 |
4,7 |
|
Hasil foto toraks positif terbanyak dengan indikasi foto toraks adanya gejala TB yakni sebesar 17 pasien (81%), sedangkan untuk penderita HIV dan balita 2T tidak ada yang positif TB pada foto toraksnya. Untuk kontak erat walaupun jumlah yang diperika sebih banyak yakni 182 pasien (41%) tetapi hanya mampu menghasilkan positif TB sebanyak 4 pasien (19%)
KESIMPULAN
Di Kabupaten Ngawi telah melaksanakan active case finding dengan menggunakan portable x ray. Secara umum pemeriksaan foto toraks menyumbang penemuan penderita TB.
Secara kuantitatif telah dilaksanakan dengan hasil sebagai berikut.
- Selama semester satu, telah dilakukan pemeriksaan dengan portable x ray sebanyak 6 pos dan tersebar di 6 wilayah kerja puskesmas.
- Dilakukan foto toraks terhadap 444 pasien terduga TB dengan hasil positif TB sebanyak 21 penderita (4,7%)
- Puskesmas Karanganyar memiliki positif rate tertinggi sebesar 52,4%
- Jumlah pasien positif hanyak terjadi pada laki-laki yaitu sebesar 61,9%
- Kelompok umur dewasa penyumbang positif TB terbanyak.
- Indikasi pemeriksaan TB banyak dilakukan pada kontak erat tetapi hasil positih banyak pada indikasi karena adanya gejala TB.
DAFTAR PUSTAKA
- World Health Organization. Global Tuberculosis Report 2025. Geneva: WHO; 2025.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Petunjuk Teknis Penatalaksanaan Tuberculosis Sensitif obat di Indonesia: Kemkes RI ; 2025
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Jakarta: Kemenkes RI; 2024.
- Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Panduan Praktik Klinis Tuberkulosis. Jakarta: PDPI; 2023.
- Ministry of Health Republic of Indonesia. Launch of Portable X-Ray for TB Detection. Jakarta: MoH RI; 2024.
- Siahaan M, Simanjuntak R. Community-based active case finding of tuberculosis in North Sumatra. Trop Med Health. 2020;48(1):1–9

