Peran Mamografi dalam Skrining Kanker Payudara: Sebuah Tinjauan Literatur

dr. Maurenda Kwadarel Zevalunsa

 

Definisi Kanker Payudara

Kanker yang paling sering terjadi pada wanita adalah kanker payudara.1 Kanker payudara merupakan salah satu penyakit keganasan yang diakibatkan oleh proliferasi abnormal tak terkontrol sel-sel payudara. Proliferasi tersebut dapat terjadi di lobulus, duktus, jaringan ikat, maupun lemak payudara.2 Terjadinya kanker payudara dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko, seperti jenis kelamin, usia, hormon estrogen, riwayat keluarga, mutasi genetik, dan gaya hidup tidak sehat.3 Deteksi dini melalui prosedur skrining merupakan salah satu pilar dalam pencegahan morbiditas dan mortalitas akibat kanker payudara melalui deteksi tumor pada stadium awal yang terlokalisasi dan dapat disembuhkan.3 Pencegahan terhadap penyakit ini sangatlah penting untuk dilakukan. Beberapa tindakan untuk deteksi dini kanker payudara yaitu periksa payudara sendiri (SADARI), periksa payudara klinis (SADANIS) dan mammografi. Skrining kanker payudara adalah pemeriksaan atau usaha untuk menemukan abnormalitas yang mengarah pada kanker payudara pada seseorang atau kelompok orang yang tidak mempunyai keluhan. Metode skrining yang terbukti efektivitasnya sampai saat ini adalah skrining mammografi.

 

Definisi Mammografi

Mamografi merupakan metode pencitraan radiologis menggunakan sinar X untuk memeriksa payudara. Pemeriksaan ini digunakan sebagai metode diagnostik dan skrining.4 Secara umum, prosedur ini dilakukan dengan meletakkan payudara pasien di atas pelat penyangga dan dikompresi dengan pelat sejajar (paddle). Selanjutnya sinar X diarahkan melewati payudara ke detektor di sisi berlawanan yang selanjutnya menghasilkan gambaran digital yang dapat mendeteksi kelainan pada payudara.5 Mamografi telah lama menjadi standar emas untuk skrining kanker payudara berbasis populasi karena kemampuannya mendeteksi adanya mikrokalsifikasi dan massa.6 Namun, sensitivitas mamografi bergantung pada kepadatan jaringan payudara, yang merupakan suatu karakteristik fenotipik yang dipengaruhi oleh faktor genetik dan hormonal, sehingga berpotensi menyebabkan lesi tidak terdeteksi, khususnya pada wanita berusia muda serta kelompok ras tertentu yang secara alami memiliki jaringan payudara lebih padat.7

 

Epidemiologi Kanker Payudara

World Health Organization (WHO) menyebutkan bahwa pada tahun 2020 terdapat sekitar 2,3 juta wanita di dunia yang menderita kanker payudara dengan 685.000 kematian.8 Sedangkan, insidensi kanker payudara di Indonesia menempati peringkat pertama dengan 65.858 kasus (16,6%) dari total 396.914 kasus kanker baru di Indonesia. Mortalitas akibat kanker payudara di Indonesia mencapai 22.430 kematian dan menduduki posisi kedua setelah kanker paru.9 Penderita kanker payudara di Provinsi Jawa Timur sekitar 17 ribu orang dan mayoritas berada di umur produktif yaitu 17-35 tahun. Jumlah kasus kanker di Indonesia terus meningkat dan diprediksi melonjak hingga lebih dari 70% pada 2050 jika langkah pencegahan dan deteksi dini tidak diperkuat. Saat ini, sekitar 400 ribu kasus beru kanker terdeteksi setiap tahunnya, dengan angka kematian mencapai 240 ribu kasus. Kementerian Kesehatan telah meluncurkan rencana aksi nasional kanker 2024-2034 untuk memperkuat skrining dan deteksi dini.10

 

Etiologi Kanker Payudara

Banyak faktor yang dapat berhubungan dengan terjadinya kanker payudara. Di antaranya adalah faktor reproduksi seperti menarche atau haid pertama usia kurang dari 12 tahun, menopause di usia lebih dari 50 tahun, melahirkan anak pertama usia lebih dari 35 tahun. Adapun faktor endokrin seperti pemakaian kontrasepsi oral atau hormonal dalam waktu lama, makanan cepat saji yaitu diet seperti makanan berlemak, minuman alkohol, genetik atau riwayat keluarga, terpapar radiasi pengion saat pertumbuhan payudara.11

 

Kelebihan Mamografi

Mamografi hingga saat ini masih menjadi salah satu modalitas pencitraan yang paling efektif untuk mendeteksi kanker payudara pada stadium dini. Melalui penggunaan sinar-X dosis rendah, metode ini memungkinkan radiolog mengidentifikasi berbagai kelainan yang mencurigakan, seperti massa, mikrokalsifikasi, dan distorsi arsitektur jaringan, bahkan sebelum kelainan tersebut dapat teraba secara klinis. Berbagai program skrining mamografi berskala besar telah menunjukkan bahwa pelaksanaan skrining secara rutin berkontribusi terhadap penurunan angka kematian akibat kanker payudara melalui deteksi dini yang diikuti dengan penanganan yang lebih cepat dan tepat.12 Meskipun demikian, interpretasi hasil mamografi masih memiliki keterbatasan karena sangat bergantung pada pengalaman dan kompetensi ahli radiologi. Proses pembacaan citra memerlukan evaluasi yang cermat terhadap berbagai karakteristik jaringan yang dicurigai mengalami keganasan dengan mempertimbangkan sejumlah faktor, seperti kepadatan jaringan payudara, kualitas pencitraan yang dihasilkan, serta karakteristik lesi yang tampak pada hasil pemeriksaan.13

 

Mamografi merupakan gold standard dalam skrining kanker payudara karena mampu mendeteksi kelainan sejak stadium dini, termasuk melalui identifikasi mikrokalsifikasi yang sering kali muncul sebelum timbulnya manifestasi klinis. Deteksi dini tersebut memungkinkan pemberian terapi yang lebih cepat dan tepat sehingga berkontribusi terhadap penurunan angka kematian akibat kanker payudara. Selain meningkatkan peluang keberhasilan pengobatan pada stadium awal, program skrining mamografi juga berperan dalam mendukung peningkatan mutu proses diagnostik melalui penerapan standar pemeriksaan yang lebih terjamin. Meskipun demikian, manfaat deteksi dini hanya dapat dicapai apabila diikuti dengan pemeriksaan diagnostik lanjutan, seperti pencitraan tambahan atau pemeriksaan histopatologi untuk menegakkan diagnosis, serta pemberian terapi yang sesuai. Tanpa tindak lanjut yang memadai, deteksi dini melalui mamografi tidak akan memberikan manfaat klinis yang optimal.14

 

Tahapan Pemeriksaan Mamografi

Pemeriksaan mamografi dilakukan dengan cara payudara pasien diletakkan di atas pelat penyangga datar dan dikompres dengan pelat sejajar yang disebut paddle. Mesin x-ray selanjutnya memancarkan sinar X ke pelat film fotografi yang menangkap gambar sinar-x pada film, atau detektor solid-state yang mentransmisikan sinyal elektronik ke komputer untuk membentuk gambar digital. Gambar yang dihasilkan disebut mamogram. Pada film mamogram, jaringan dengan kepadatan rendah, seperti lemak, tampak tembus cahaya (yaitu warna abu-abu yang lebih gelap mendekati latar belakang warna hitam), sedangkan area jaringan padat, seperti jaringan ikat dan kelenjar atau tumor, tampak lebih putih pada latar belakang abu-abu. Pada mamogram standar, masing-masing payudara diambil tampilan atas dan samping. Gambar tambahan dapat diambil jika dokter mengkhawatirkan area payudara yang nampak mencurigakan.15 Dokter radiologi akan memeriksa mamogram untuk mencari area kepadatan tinggi atau area dengan konfigurasi tampak berbeda dari jaringan normal. Area-area tersebut merepresentasikan banyak tipe berbeda, meliputi kanker, tumor jinak, fibroadenoma, atau kista komplek. Selanjutnya dilihat ukuran, bentuk, dan kontras dari daerah abnormal, juga gambaran tepi dan batas, yang mengindikasikan kemungkinan keganasan yaitu kanker. Mamogram juga bisa menampakkan mikrokalsifikasi, yang tampak sebagai bintik-bintik sangat terang. Meskipun biasanya jinak, lokasi mikrokalsifikasi terkadang menandakan adanya jenis kanker tertentu. Jika suatu mamogram menunjukkan satu atau lebih daerah mencurigakan yang tidak definitif untuk kanker, radiologis bisa meminta mamografi tambahan, rujukan untuk pemeriksaan non-invasif lain, seperti USG atau MRI atau biopsi jika diperlukan.16

 

Efek Samping Mamografi

Skrining kanker payudara menggunakan mamografi bertujuan untuk mendeteksi kanker payudara pada stadium awal yang masih dapat disembuhkan.17,18 Agar deteksi dini melalui skrining memberikan manfaat, diperlukan adanya pemeriksaan yang berkelanjutan, pola pertumbuhan tumor yang berkembang dan linier, serta kanker payudara belum menyebar pada saat tumor dapat terdeteksi melalui mamografi.19 Dengan demikian, apabila asumsi mengenai pola pertumbuhan tumor tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya atau pertumbuhan tumor bersifat heterogen, maka mamografi sebagai metode skrining mungkin tidak cukup efektif untuk menurunkan beban penyakit kanker payudara.20

Perdebatan mengenai efektivitas mamografi sebagai metode skrining tidak lagi terbatas pada manfaatnya dalam mendeteksi kanker payudara secara dini, tetapi juga semakin menyoroti berbagai potensi dampak negatif yang dapat ditimbulkannya. Dalam satu dekade terakhir, perhatian terhadap fenomena overdiagnosis (diagnosis berlebih) pada skrining mamografi terus meningkat. Overdiagnosis mengacu pada ditemukannya tumor melalui proses skrining yang kemungkinan tidak akan berkembang menjadi penyakit yang menimbulkan gejala ataupun mengancam jiwa apabila skrining tidak dilakukan. Kondisi ini merupakan salah satu konsekuensi yang tidak diinginkan dari skrining, mengingat hingga saat ini belum tersedia penanda biologis yang mampu membedakan tumor yang bersifat overdiagnosed dengan tumor yang memiliki potensi progresivitas tinggi. Akibatnya, seluruh tumor yang terdeteksi umumnya tetap mendapatkan penanganan medis, meskipun sebagian di antaranya mungkin tidak memerlukan terapi. Dampaknya, perempuan yang mengalami overdiagnosis berisiko menjalani pengobatan yang sebenarnya tidak diperlukan, sehingga hanya menanggung beban fisik, psikologis, maupun efek samping terapi tanpa memperoleh manfaat klinis yang bermakna. Oleh karena itu, pembahasan mengenai skrining mamografi perlu mempertimbangkan secara seimbang antara manfaat yang diperoleh melalui deteksi dini dengan potensi risiko yang ditimbulkannya.20,21,22

 

Tinjauan pustaka

  1. Henderson, J. T., Webber, E. M., Weyrich, M., Miller, M., & Melnikow, J. (2024). Screening for breast cancer: A comparative effectiveness review for the US preventive services task force [Internet].
  2. Allemani C, Sant M, Weir HK, Richardson LC, Baili P, Storm H, et al. Breast cancer survival in the US and Europe: a CONCORD high-resolution study. Int J Cancer.2016;132(5):1170–81.
  3. Abdullah NA, Mahiyuddin WRW, Muhammad NA, Mohamad Ali Z,Ibrahim L, Tamim NSI, et al. Survival rate of breast cancer patients in Malaysia: A population-based study. Asian Pacific J Cancer Prev. 2013;14(8):4591–4.
  4. Gerami R, Joni S, Akhondi N, Etemadi A, Fosouli M, Eghbal AF, et al. A literature review on the imaging methods for breast cancer. Int J Physiol Pathophysiol Pharmacol. 2022;14(3): 171–6. PMID: 35891932.
  5. Ginsburg O, Yip C, Brooks A, Cabanes A, Caleffi M, Yataco JA, et al. Breast cancer early detection: A phased approach to implementation. Cancer 2020;126(10):2379–93. DOI: 10.1002/cncr.32887.
  6. Strandberg, R., Illipse, M., Czene, K., Hall, P., & Humphreys, K. (2023). Influence of mammographic density and compressed breast thickness on true mammographic sensitivity: A cohort study. Scientific Reports, 13(1), Article 14194.
  7. Payne, N. R., Hickman, S. E., Black, R., Priest, A. N., Hudson, S., & Gilbert, F. J. (2025). Breast density effect on the sensitivity of digital screening mammography in a UK cohort. European Radiology, 35(1), 177–187.
  8. World Health Organization (WHO). Breast cancer [Internet]. World Health Organizations. 2021. Available from: https://www.who.int/news-room/fact- sheets/detail/breast%02cancer
  9. Sinaga ES, Ahmad RA, Shivalli S, Hutajulu SH. Age at diagnosis predicted survival outcome of female patients with breast cancer at a tertiary hospital in Yogyakarta, Indonesia. Pan Afr Med J. 2018;31:1–9.
  10. 2025. Kasus Kanker Diprediksi Meningkat 70 Persen Pada 2050, Kemenkes Perkuat Deteksi Dini. Avaible from https://kemkes.go.id/id/kasus-kanker-diprediksi-meningkat-70-persenpada-2050-kemenkes-perkuat-deteksi-dini
  11. Iqmy, L.O., Setiawati, D.E.Yanti. 2021. Faktor Risiko yang Berhubungan dengan Kanker Payudara. Jurnal Kebidanan, 7(1):32-36
  12. Muhammad H, Sheraz T, Um-e-Uban J. Deep Learning-Based Mammography Analysis For Breast Cancer : Systematic Study. Volume 4, Issue 05, 2026.
  13. Hari S., Yohana A., Kiran S. Peran Mammografi Untuk Skrining Kanker Payudara: Sebuah Tinjauan Pustaka, 2022.
  14. Reeves R, Kaufman T. Mammography [Internet]. 2023 [cited 2023 Nov 15]. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK559310/.
  15. Soekersi H, Azhar Y, Akbari K. Peran mammografi untuk skrining kanker payudara: Sebuah tinjauan pustaka. J Indon Med Assoc. 2002;72(3):144-50.
  16. Raffle AE, Gray JAM. Screening: Evidence and Practice. Oxford, United Kingdom: Oxford University Press; 2017.
  17. Holland WW, Stewart S. Screening in Disease Prevention. What works? Oxford, United Kingdom: The Nuttfield Trust/Radcliffe Publishing Ltd; 2017
  18. Bretthauer M, Kalager M. Principles, effectiveness and caveats in screening for cancer. Br J Surg. 2013;100:55–65.
  19. Jessica Fitzjohn, Cong Zhou, J. Geoffrey Chase. Critical Assessment of Mammography Accuracy. 2023
  20. Løberg et al. Benefits and harms of mammography screening. 2015
  21. Esserman L, Thompson IM, Reid B, Nelson P, Ransohoff DF, Welch HG, et al. Addressing overdiagnosis and overtreatment in cancer: a prescription for change. Lancet Oncol. 2014;15:e234–42
  22. Pathak Smitha et al. Evaluating Efficacy Of Accuracy Of Clinical Diagnosis, Mammography And Ultrasonography In Breast Cancer. International Journal of Medicine & Public Health, 2026, Vol 16, Issue 1, p2034

 

Leave a Reply